18/06/2021

BELAJAR TOP

Semua Bisa Ngetop

Anak Kecanduan Gadget di Masa Pandemi, Solusinya?

pixabay

BELAJARTOP.COM – Anak kecandudan gadget, menjadi salah satu risiko ketika anak harus belajar di rumah selama masa pandemi Covid-19. Bagaimana tidak, karena pembelajaran harus dilakukan secara daring. Baik itu dilakukan dengan laptop atau handphone.

Aktivitas fisik yang biasa dilakukan anak bersama teman-temannya di sekolah, tak dapat dilakukan lagi. Semuanya beralih ke dalam kamar.

Kondisi tersebut mengharuskan anak untuk tetap di rumah. Dan, hampir semua kegiatan anak dilakukan secara remote.

Kondisi demikian secara langsung atau tidak, telah membuat anak terpapar gadget sepanjang hari  untuk mempelajari materi yang diberikan sekolah. Orang tua menganggapnya anak kecanduan gadget.

Seorang pakar neuro parenting, Dr Aisah Dahlan CHt mengatakan, terlalu lama dan sering menatap layar gadget, akan berdampak pada mata maupun otak anak.

Khusus untuk menjaga kesehatan mata setelah lama menatap layar gadget, yakni dengan melakukan peregangan. Ada beberapa pola yang disarankan.

Pertama adalah  20-20. Yaitu, 20 menit melihat gadget dan 20 menit istirahat. Dan kedua adalah pola 40-10. Artinya menatap layar selama 40 menit, kemudian 10 menit mengistirahatkan mata.

Bagaimana jika anak ingin melihat game setelah lama dan bosan belajar. Hal itu tidak masalah, karena game bisa mengistirahatkan otak anak, sehingga menjadi lebih rileks.

Akan tetapi, selingan berupa kegiatan fisik yang lebih mengutamakan motorik dirasa akan lebih baik. Misalnya, ikut membantu orang tua menata kamar, membersihkan jendela, menata taman dan lain-lain.

Jika anak ingin main game, orang tua dan anak perlu ada kesepakatan, berapa waktu yang disepakati. Bukan berti anak kecanduan gadget. Dengan demikian, selain anak tidak akan tertekan, hal itu bisa melatih anak untuk mandiri.  

Anak Kecanduan Gadget Butuh Pendampingan

Kegiatan belajar mengajar secara daring memang di satu sisi menyenangkan, namun pada sisi yang lain, sebagian orangtua siswa merasa terbebani.  

Pasalnya, jam-jam sekolah yang biasanya menjadi tanggung jawab sekolah ketika anak-anak mengikuti pelajaran secara tatap muka, kini tidak bisa lagi dilakukan.

Pelajaran dilakukan di rumah. Meski mendapat materi pelajaran secara daring dari guru, namun orang tua tak bisa angkat tangan dan pasrah bongkokan di jam-jam sekolah tersebut.

Mau tak mau, orang tua ikut memainkan peran sebagai guru di rumah.  Tentu orang tua tak dituntut untuk mengajarkan materi-materi pelajaran, seperti yang diajarkan guru di sekolah.

Yang diperlu dilakukan adalah mendampingi anak ketika mereka mengalami kesulitan saat menjalani pembelajaran secara daring. Pada anak-anak yang masih berusia TK sangat terasa sekali, peran pendampingan orang tua jauh lebih besar. (*)

Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.
Translate »